Ketahanan Pangan Nasional Jadi Agenda Bersama, Ruang Upgrading Indonesia Hadirkan Dialog Strategis tentang Swasembada Beras


Jakarta, 20 Juli 2026 – Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan kedaulatan suatu bangsa. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, fluktuasi harga pangan, hingga meningkatnya kebutuhan konsumsi masyarakat, Indonesia dituntut untuk terus memperkuat sektor pertanian sebagai penyangga utama kehidupan nasional. Berangkat dari semangat tersebut, Pustaka Institute bersama Ruang Upgrading Indonesia menyelenggarakan Diskusi Publik bertajuk "Swasembada Beras untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional" sebagai ruang bertukar gagasan antara pemerintah, akademisi, organisasi kemahasiswaan, dan generasi muda.

Forum ini diharapkan menjadi wadah untuk memperkuat pemahaman publik bahwa swasembada beras bukan hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi juga mencakup aspek keberlanjutan pertanian, kesejahteraan petani, distribusi pangan yang merata, perlindungan konsumen, hingga pembangunan sumber daya manusia yang memiliki kepedulian terhadap masa depan pangan Indonesia. Dengan menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, diskusi ini diharapkan mampu melahirkan perspektif yang komprehensif dan rekomendasi yang konstruktif bagi pembangunan sektor pangan nasional.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif Ruang Upgrading Indonesia, Muhamad Riyadh Fadild, menyampaikan bahwa persoalan ketahanan pangan merupakan isu strategis yang tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Menurutnya, diperlukan sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia akademik, organisasi masyarakat, serta generasi muda untuk menciptakan ekosistem pangan yang tangguh dan berkelanjutan.

"Ketahanan pangan merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga kedaulatan bangsa. Oleh karena itu, upaya mewujudkan swasembada beras harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Ruang Upgrading Indonesia hadir sebagai ruang kolaborasi dan ruang intelektual yang mempertemukan berbagai gagasan demi menghasilkan solusi nyata bagi persoalan bangsa. Kami percaya bahwa diskusi seperti ini bukan hanya menjadi tempat bertukar pikiran, tetapi juga menjadi awal lahirnya kolaborasi yang mampu memberikan dampak positif bagi pembangunan nasional, khususnya di sektor pangan."

Riyadh juga menambahkan bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengawal isu-isu strategis nasional melalui kajian, edukasi, serta aksi nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, peningkatan kapasitas intelektual pemuda harus berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal SEMA PTKIN Indonesia, Elok Azkiyatun Nafsiyah, menyoroti pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Ia menjelaskan bahwa mahasiswa tidak hanya memiliki fungsi sebagai kelompok akademik, tetapi juga sebagai penggerak kesadaran publik yang mampu menghubungkan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

"Ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari kualitas sumber daya manusia. Mahasiswa harus hadir sebagai motor penggerak perubahan melalui riset, edukasi, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai inovasi yang mampu menjawab tantangan di sektor pertanian dan pangan. Swasembada beras harus dipahami sebagai bagian dari cita-cita besar bangsa untuk mencapai kemandirian, sehingga seluruh elemen, khususnya generasi muda, perlu mengambil bagian dalam mewujudkannya."

Elok juga menekankan bahwa kampus memiliki peran strategis dalam melahirkan gagasan-gagasan inovatif yang dapat mendukung pembangunan sektor pangan, baik melalui penelitian maupun kolaborasi dengan berbagai lembaga pemerintah dan masyarakat.

Pada kesempatan yang sama, Komisioner Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI, Ir. Jailani, S.T., M.M., menyampaikan bahwa keberhasilan swasembada beras harus diiringi dengan terjaminnya hak-hak konsumen untuk memperoleh pangan yang aman, berkualitas, dan terjangkau. Menurutnya, keberhasilan pembangunan pangan tidak hanya diukur dari tingginya produksi, tetapi juga dari kemampuan negara dalam memastikan hasil produksi tersebut dapat dinikmati secara adil oleh seluruh masyarakat.

"Ketahanan pangan yang kuat harus mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat sebagai konsumen. Negara perlu memastikan bahwa pangan yang tersedia memiliki kualitas yang baik, aman untuk dikonsumsi, memiliki harga yang wajar, serta mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, perlindungan konsumen menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan nasional yang berkeadilan dan berkelanjutan. Ketika produksi meningkat dan hak-hak konsumen terlindungi, maka tujuan besar swasembada beras akan benar-benar memberikan kesejahteraan bagi rakyat."

Ia juga menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat merupakan kunci dalam membangun sistem pangan nasional yang mampu menghadapi berbagai tantangan global di masa mendatang.

Melalui penyelenggaraan diskusi publik ini, Pustaka Institute dan Ruang Upgrading Indonesia berharap dapat memperkuat budaya diskusi yang berbasis ilmu pengetahuan sekaligus mendorong lahirnya kolaborasi lintas sektor dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Forum ini menjadi bukti bahwa pembangunan Indonesia membutuhkan kontribusi nyata dari seluruh elemen bangsa, termasuk generasi muda yang memiliki semangat, kapasitas, dan kepedulian terhadap masa depan negeri.

Sebagai ruang peningkatan kapasitas intelektual, Ruang Upgrading Indonesia berkomitmen untuk terus menghadirkan forum-forum strategis yang mampu mempertemukan gagasan, memperluas jejaring kolaborasi, serta memberikan kontribusi nyata terhadap berbagai isu pembangunan nasional. Harapannya, diskusi ini menjadi langkah awal menuju terbangunnya ekosistem pangan Indonesia yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan memperkuat kedaulatan bangsa.

Komentar